Pages

Subscribe:

Tentang migren

Gejala Migren – Mirip Gejala Stroke
-------------------------------------------
Hati-hati jika selama ini Anda mengalami migren. Sebab gejala migren mirip dengan gejala yang mengarah pada stroke.

Migren terjadi karena adanya penyempitan dan pelebaran pembuluh darah yang menekan ujung-ujung saraf. Penyempitan dan pelebaran pembuluh darah ini disebabkan oleh munculnya neotransmitter seperti histamin. Migren terjadi pada satu sisi kepala. Bisa di sebelah kanan ataupun kiri.

Menurut Jan Sudir Purba, MD, Phd, Neuroendocrinology dari Bagian Neurologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, banyak faktor-faktor yang menyebabkan munculnya migren. “Faktor genetik dianggap berpengaruh, tapi sampai sejauh mana berperan dalam kejadian tidak diketahui secara pasti,” jelas dokter yang mendapat gelar PhD dari University of Amsterdam - Belanda ini.

Saat terjadi migren, terjadi ketidakseimbangan yang disebabkan oleh kelainan pada saraf sehingga terjadi rasa sakit. “Yang jelas kita tahu migren terjadi karena ada kelainan, tapi apa yang menyebabkan kelainan ini tidak diketahui dengan jelas,” tambahnya.

Ada dua tipe migren yang dikenal, yaitu migren klasik dan migren non klasik atau sering juga disebut migren umum. Migren klasik didahului dengan gejala neurologic seperti perasaan mual dan muntah. Selain itu seringkali diawali dengan munculnya aura berupa kilatan cahaya atau gangguan pada penglihatan. Biasanya gejala ini muncul 10-30 menit sebelum serangan.

Sedangkan migren non klasik muncul secara tiba-tiba. Rasa sakit juga tidak menetap, bisa di bagian kepala sebelah kiri atau kanan. Namun pada sebagian orang ada yang merasakan gejala seperti mood berubah atau merasa lelah.

Baik migren klasik maupun non klasik dapat menyerang sesering mungkin dalam jangka waktu seminggu atau beberapa kali dalam jangka waktu setahun. Menurut sebuah penelitian, migren lebih banyak diderita wanita dibanding pria. Ini ditengarai karena migren juga berhubungan dengan hormon estrogen.

Pemicu
------------------------------
pemicu migren berbeda pada tiap orang. Seringkali pemicu migren adalah sebagai berikut:
• Makanan: susu, coklat, alkohol, MSG, yogurt, atau makanan dan minuman yang mengandung kafein.

Jenis makanan diatas merupakan pemicu umum terjadinya migren pada penderita. Penderita yang dipicu oleh susu, biasanya juga tidak bisa mengonsumsi makanan yang mengandung susu seperti keju atau mentega.

Obat-obatan: Antibiotik (tetracycline, griseofulvin), antihypertensives (nifedipine, captopril), hormon (kontrasepsi oral, estrogen), histamin (cimetidine, ranitidine), vasodilators (nitroglycerin, isosorbide dinitrate)

• Stimulus Sensor: suara, cahaya, bau-bauan (parfum, asap rokok, zat-zat kimia)
Suara yang bising bisa menjadi pemicu pada sebagian orang. Demikian juga dengan bau yang menyengat atau cahaya yang menyilaukan.

• Gaya Hidup: perbedaan waktu, pola tidur, kebiasaan makan, dan stress
Pola tidur yang berubah seperti begadang, atau stress bisa menjadi pemicu migren.

•Pemicu lain: siklus menstruasi, perubahan cuaca, tekanan tinggi
Pada sebagian penderita, timbulnya migren dipicu oleh PMS (Pre Menstruasi Syndrome). Perbedaan tekanan udara yang tinggi juga bisa menjadi pemicu.

Gejala
---------------------------------
Umumnya gejala migren yang dialami penderita adalah:
•Rasa sakit yang sedang hingga parah
•Mual
•Sensitiv terhadap cahaya, bau, dan suara
•Rasa berdenyut di sebagian kepala
•Rasa sakit semakin parah jika dibawa beraktivitas
•Muntah
•Munculnya aura, selain kilatan cahaya juga bisa berupa penampakan bintik-bintik gelap, sensasi mati rasa atau geli.

Bagaimana mengatasinya?
------------------------------
Sebagian besar penderita migren enggan memeriksakan diri ke dokter. Saat migren kambuh, mereka lebih suka minum obat penghilang rasa sakit yang dijual bebas atau memilih tidur di ruangan gelap untuk meredakan rasa sakit.

Padahal akan lebih baik jika saat merasakan gejala migren, untuk memeriksakannya ke dokter. Karena bisa jadi, gejala yang dirasakan bukan migren. Menurut dr. Jan tanda-tanda migren bisa merupakan tanda-tanda yang mengarah pada stroke. Jika memang demikian adanya, pemberian obat migren harus hati-hati karena migren bersifat saraf sedangkan stroke berhubungan denganpembuluh darah.

“Bedanya saraf neutron dengan pembuluh darah, kalo pembuluh darah jangan coba-coba diutak-atik. Karena pembuluh darah banyak reseptornya. Sementara kalau neutron malah harus dikerjain. Istilahnya Use It or U Lose It,” jelas dr.Jan.

Ditambahkan dr.Jan pemberian obat migren untuk gejala stroke bisa mengakibatkan pembuluh darah mengecil. Jika dosisnya tinggi, pembuluh darah akan tertutup yang akan mengakibatkan iskemik dan pada akhirnya stroke. “Oleh karena itu sebaiknya periksakan ke dokter,” tandasnya.

Diakui dr.Jan, memang agak sulit untuk mencegah datangnya migren. Namun mengenali pemicunya bisa membantu. Jika pemicunya coklat misalnya, sebaiknya penderita menghindari makan coklat. Atau jika dipicu oleh stress, penderita harus mampu memanajemen stress yang timbul.

Dokter kelahiran Pematang Siantar 55 tahun lalu ini menyarankan lebih baik konsumsi makanan yang mengandung antioksidan. Tidak harus berupa suplemen, tapi cukup buah-buahan dan sayuran segar yang dibarengi dengan olahraga yang cukup